Merawat Pasien Stroke di Rumah

Mau sharing buku menarik mengenai Stroke yang ditulis oleh Ns. Enny Mulyasih, S.Kep dan DR. dr. Airiza Ahmad, SpS(K) terbitan FKUI berjudul “STROKE, petunjuk perawatan pasien pasca stroke di rumah”. Buku ini menarik karena angka kejadian stroke yang sangat tinggi di Indonesia, bahkan merupakan penyebab kematian pertama di Indonesia (melebihi serangan jantung), namun sayangnya perhatian pemerintah maupun masyarakat dalam usaha preventif, promotif, kuratif, apalagi rehabilitatif masih sangat kurang meskipun akhir-akhir ini sudah mulai gencar diadakan pelatihan kader stroke oleh instansi-instansi medis.

Nyatanya, ketika seseorang diduga stroke, masyarakat masih enggan untuk segera membawa ke rumah sakit, dan lebih memilih untuk menunggu gejala hilang (merot/muka menceng hilang, bahkan menunggu pasien sadar) atau malah langsung membawa ke pengobatan alternatif. Padahal, time is brain! Semakin lambat penanganan pasien stroke, semakin jelek pula prognosisnya.

Image

Tanda-tanda stroke tidak selalu berupa lumpuh setengah badan.

Di pelatihan medis atau penyuluhan, saat ini sudah banyak digunakan metode FAST untuk pengenalan gejala stroke untuk masyarakat awam.

Image

Jadi, jika anda bukan tenaga medis, perlu diketahui bahwa sangat penting untuk SESEGERA MUNGKIN membawa pasien stroke ke rumah sakit terdekat. Pertolongan pertamanya bagaimana? Mungkin anda pernah mendengar atau menerima pesan yang menjelaskan jika keluarga anda stroke atau anda menemukan pasien stroke anda harus menusuk ujung jari dan ujung telinga dengan jarum steril sampai keluar darah, oke ITU TIDAK BENAR. Jadi jangan lakukan. Itu hoax. Pertolongan pertama yang benar adalah anda bisa meninggikan posisi kepala pasien sekitar 15-30 derajat (diganjal dengan satu bantal), tidak memberikan makan atau minum untuk mencegah tersedak, dan segera membawa pasien ke rumah sakit yang memiliki fasilitas ruang perawatan stroke.

Di rumah sakit pasien stroke akan segera ditangani dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah dan CT scan untuk menegakkan diagnosa dan menentukan jenis stroke (perdarahan atau penyumbatan).

Image

Gambar kiri stroke perdarahan (karena pembuluh darah otak pecah), sedangkan

gambar kanan stroke penyumbatan (karena pembuluh darah tersumbat)

Setelah lebih stabil, dari UGD pasien akan dipindahkan ke ruang Unit Stroke (jika ada), dapat juga di ICU atau ruang biasa tergantung keadaannya. Tujuan utama perawatan pasien stroke adalah memperbaiki oksigenasi ke otak dan mengurangi resiko komplikasi. Pasien stroke yang dirawat dirumah sakit akan mendapatkan tindakan dan obat-obatan yang dibutuhkan, diatur posisi tidurnya, dan ketika lebih stabil akan mendapatkan latihan untuk menggerakan anggota tubuh secara pasif maupun aktif.

Disaat dokter sudah memperbolehkan pasien stroke pulang, maka mulai saat itulah sebenarnya peran keluarga menjadi sangat besar terhadap kesembuhan pasien. Perlu diingat bahwa stroke seringkali meninggalkan gejala sisa yaitu kelumpuhan, kelemahan, bahkan gangguan berkomunikasi yang kesembuhannya dapat terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama bahkan dapat juga gejala itu akan terus menetap. Oleh karena itu apabila anda adalah keluarga dari pasien yang mengalami stroke, sangat penting untuk tidak putus asa, terus menyemangati diri sendiri dan terutama keluarga anda yang stroke, karena sekali lagi, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam kesembuhan pasien.

Di buku ini dijelaskan bahwa pasien stroke membutuhkan penanganan yang komprehensif, termasuk upaya pemulihan dan rehabilitasi dalam jangka lama, bahkan sepanjang sisa hidup pasien. Keluarga sangat berperan dalam fase pemulihan ini, sehingga sejak awal perawatan keluarga diharapkan terlibat penanganan pasien.

Prinsip dalam merawat pasien stroke dirumah adalah:

1. Membantu mencegah kecacatan menjadi seminimal mungkin

2. Melatih pasien mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari

3. Meningkatkan rasa percaya diri pasien

4. Mencegah terulangnya stroke

Berikut ini berbagai masalah yang mungkin dialami pasien pasca stroke dan cara keluarga mengatasinya.

1. Kelumpuhan/ kelemahan

Apabila sewaktu pulang kerumah pasien belum mampu bergerak sendiri, aturlah posisi pasien senyaman mungkin, tidur terlentang atau miring ke salah satu sisi, dengan memberi perhatian khusus pada bagian lengan atau kaki yang lemah. Posisi tangan dan kaki yang lemah sebaiknya diganjal dengan bantal, baik pada saat berbaring atau duduk untuk memperlancar arus balik darah ke jantung dan mencegah terjadinya bengkak pada tangan dan kaki. Keluarga dan pengasuh dapat mencegah terjadinya kekakuan tangan dan kaki yang lemah dengan melakukan latihan gerak sendi, melanjutkan latihan yang telah dilakukan di rumah sakit. Sebaiknya latihan dilakukan minimal 2x sehari. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot latihan harus dilakukan oleh fisioterapi 3-4x seminggu, sedangkan sisa hari yang lain dapat dilakukan oleh keluarga atau pengasuh. Keluarga juga dapat membantu pasien berjalan kembali dengan cara berdirilah disisi yang lemah atau di belakang pasie untuk memberi rasa aman pada pasien. Hindari penggunaan alat bantu jalan kecuali jika diperlukan sesuai anjuran fisioterapis.

2. Mengaktifkan tangan yang lemah

Anjurkan pasien makan, minum, mandi atau kegiatan harian lain menggunakan lengan yang masih lemah dibawah pengawasan pengasuh. Dengan mengaktifkan tangan yang lemah akan memberikan stimulasi pada sel-sel otak untuk berlatih kembali aktifitas yang dipelajari sebelum sakit.

3. Gangguan sensibilitas (rasa kebas atau baal)

Keluarga sebaiknya menghampiri dan berbicara dengan pasien dari sisi tubuh yang lemah. Saat berkomunikasi, pengasuh dapat menyentuh dan menggosok tangan dengan lembut yang mengalami kelemahan. Keluarga dianjurkan memberi motivasi kepada pasien agar menggunakan tangan yang lemah sebanyak dan sesering mungkin dan menjauhkan dan menghindarkan barang atau keadaan yang dapat membahayakan keselamatan pasien, misalnya nyala api, benda tajam dan benda berbahaya lainnya. Keluarga juga harus selalu mengingatkan pasien untuk tidak mencoba sesuatu, misalnya air panas dengan tangan yang lemah.

Hard work beats talent when talent doesn’t work hard.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s